Potret sisa banjir di TPQ Bustanul Qur’an, Kp.Durian, Kec. Rantau-Aceh Tamiang. Saat Ramadhan datang, banjir masih menyisakan luka mendalam, penderitaan belum juga reda, ditambah krisis air bersih yang menjadi sumber kehidupan belum tersedia.
Kabupaten Aceh Tamiang kini berada di titik krusial dalam menghadapi krisis air bersih yang kian memprihatinkan. Bagi ribuan warga di pelosok “Bumi Muda Sedia,” air bersih bukan lagi sekadar fasilitas publik, melainkan barang mewah yang sulit dijangkau. Kondisi ini terasa sangat nyata di TPQ Bustanul Qur’an, Kampung Durian, Kecamatan Rantau, di mana sisa-sisa banjir masih menyisakan duka mendalam bagi para santri dan pengajar. Darurat air ini telah menyentuh sendi-sendi kesehatan dan pendidikan, menciptakan beban berlapis di tengah upaya pemulihan pascabencana.

Ironisnya, saat bulan suci Ramadhan tiba, penderitaan warga justru belum mereda karena krisis air bersih yang menjadi sumber kehidupan belum juga teratasi. Banjir yang melanda wilayah tersebut tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga mencemari sumber-sumber air yang ada, meninggalkan masyarakat dalam ketidakpastian. Warga seringkali terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli air tangki demi memasak dan berwudhu, sebuah pengeluaran tambahan yang sangat memberatkan bagi keluarga yang sedang berjuang bangkit dari dampak banjir.
Akses terhadap air bersih yang layak masih menjadi perjuangan panjang bagi banyak santri dan warga desa menjelang ramadhan. Air masih tercemar dan menjadi kendala bagi para santri, warga, dan jamaah untuk berwudhu dalam menunaikan ibadah di bulan Ramadhan.
Jangan biarkan mereka menunggu lebih lama untuk air bersih. Satu sumur yang Anda bangun hari ini, adalah kehidupan bagi generasi Tamiang di masa depan. Setiap tetes air yang digunakan untuk berwudhu, memasak, dan mencuci oleh warga akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meski kita telah tiada.