Keistimewaan Wakaf dan Sedekah Jariah Saat Ramadhan

Rasulullah Saw. pernah ditanya; “Sedekah apakah yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Yaitu sedekah di bulan Ramadan.” (HR. Tirmidzi

Bulan suci Ramadan menjadi momen bagi umat Islam untuk semakin meningkatkan ketakwaan. Juga ajang untuk semakin banyak berlomba-lomba dalam kebaikan. Salah satunya, dengan meraih surga melalui sedekah jariyah.

Sedekah itu banyak macamnya..

Sahabat, kalau dulu kita sering mendengar “senyum saja sudah sedekah” ternyata ada benarnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sedekah adalah pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi. Senyum termasuk di dalamnya, karena kita bisa memberikannya tanpa aturan ataupun batas-batas terntentu.

Lalu apa bedanya sedekah dengan infak dan wakaf?

Apabila sedekah bisa berbentuk non-harta, maka infak bentuknya harta yang diserahkan dan/atau telah dinafkahkan menjadi suatu benda bernilai manfaat untuk orang lain. Sementara itu, wakaf juga merupakan sedekah. Hanya saja, wakaf adalah sedekah jariyah, yakni sedekah yang amalannya tidak terputus meskipun si pemberi meninggal dunia. Hal ini berlaku selama benda wakafnya terus memberikan manfaat berkesinambungan.

Rasulullah saw. bersabda: “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.” (HR. Muslim no. 1631)

Meraih ganjaran yang jauh lebih banyak berlipat ganda

Pada bulan-bulan selain Ramadan, kita diberitahu bahwa Allah Swt. memberikan ganjaran hingga tujuh ratus kali lipat. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 261 di bawah ini.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir tumbuh serratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang mereka kehendaki, dan Allah Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui.”

Tidak terbayang jika kemudian sedekah jariyah atau wakaf kita lakukan saat bulan Ramadan. Bulan yang paling utama untuk menafkahkan harta di jalan-Nya, memberi kebaikan pada sesama. Sedekah jariyah yang juga kelak menaungi kita di hari kiamat.

Meraih pahala meski tidak melakukan apa-apa

Ciri dari wakaf atau sedekah jariyah yang Sahabat lakukan adalah amalannya terus mengalir hingga hari ini, meski Sahabat melakukannya kemarin atau berbulan-bulan, bertahun-tahun yang lalu. Hal ini karena nilai manfaat dari apa yang Sahabat wakafkan terus bergulir.

Contohnya, ketika Sahabat berwakaf melalui uang untuk membangun Rumah Sakit Salman JIH Bandung. Kemudian rumah sakit itu beroperasi puluhan tahun ke depan, maka amalan jariyahnya terus menerus datang atas nama Sahabat. Rumah sakit tersebut kebetulan baru-baru ini memulai tahap awal pembangunan setelah peletakan batu pertama diwakili oleh Hatta Rajasa pada Maret 2022 lalu.

Mengumpulkan bekal masuk surga khusus ahli sedekah

Sahabat, ternyata ada 8 pintu surga yang bisa kita masuki suatu hari nanti. Saat ini kita masih ada di dunia, melakukan kewajiban ibadah dan wakaflah yang menyempurnakan ibadah-ibadah kita tersebut. Ada pintu surga bagi siapapun hamba yang dikehendaki-Nya, yang ahli dalam setiap satu macam ibadahnya. Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits.

 “Siapa yang berinfaq sedikit saja untuk dua kendaraan di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: wahai hamba Allah ini adalah hasil kebaikanmu! …, jika ia ahli sedekah maka akan dipanggil dari babus shadaqah (pintu sedekah), jika ia ahli puasa maka akan dipanggil dari pintu puasa atau babur rayyan (pintu ar Rayyan).” (HR. Bukhari no. 3666, Muslim no. 1027)

Jadi bagaimana Sahabat? Sudah saatnya kita tidak mengabaikan kesempatan Ramadan dan sebisa mungkin memberikan apa yang kita mampu sebagai hamba sehingga meraih sebanyak-banyaknya keberkahan Ramadan. Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan dalam berkhidmat untuk kehidupan dunia-akhirat.

Sumber : www.bwi.go.id

Ditulis oleh Retno Ika Lestari Widianti/Wakaf Salman ITB