Rendahnya literasi wakaf pada saat ini menjadi persoalan, seperti yang telah dirilis sebelumnya Indeks Literasi Wakaf di Indonesia dengan skor 50,48 masuk dalam kategori rendah dibandingkan dengan zakat dengan nilai moderat. Namun, semangat literasi juga semakin tumbuh dan berkembang meski kondisi masih ditengah pandemi. 

Aksi Wakaf Fest kembali di gelar Baitul Wakaf pada Kamis ( 26/11) untuk yang ketiga kalinya. Hadir sebagai narasumber Dr. Ir. Imam Teguh Saptono, MM dari Badan Wakaf Indonesia, Helmy Yahya selaku Coach Bussiness dan Communication dan Rama Wijaya, selaku Direktur Baitul Wakaf.

Kali ini mengangkat tema Wakaf harus Asyik sebagai upaya untuk terus meningkatkan pengetahuan dan literasi wakaf di Indonesia dengan pendekatan yang menyasar segmen muda.

Diperlukan terobosan dan pendekatan komunikasi yang tepat dan creativ dalam membangun kreatifitas dalam komunikasi wakaf kedepan. Salah satu sosok yang dikenal sebagai begawan kreatifitas Indonesia, Helmy Yahya, selain juga dikenal sebagai bussines dan communication coach yang telah menyabet berbagai award dan rekor MURI.

Pada Aksi Wakaf Fest untuk yang ketiga kalinya di tahun 2020 yang digelar secara virtual, Helmy Yahya menyebutkan Indonesia merupakan negara yang paling dermawan di dunia dan wakaf perlu disosialisakan.

“Diperlukan kreatifitas out of the box masuk dalam berbagai kegiatan dalam sosialisasi untuk menjangkau anak millenials, karena mereka memiliki potensi besar dan punya kepedulian yang luar biasa” Ujar Helmy

Kreatifitas menurut Helmy menjadi hal yang penting dan kunci keberhasilannya dalam melakukan transformasi saat menjadi Dirut TVRI.

“Contoh transformasi TVRI yang saya lakukan bukan hanya mengganti logo dan seragam namun juga program program yang disukai millenial.  Maka, potensi wakaf ini bagaimana kita melakukan literasi kepada anak muda dengan cara dan media yang disenangi anak muda” paparnya lagi. 

Dalam kesempatan ini, Helmy mengajak untuk menggiatkan wakaf kepada anak muda dengan dengan pendekatan praktis, user friendly dan tidak mau repot dan dicampaign dengan cara yang dipahami anak anak muda.

Sementara itu narasumber Aksi Wakaf Fest, Imam Teguh Saptono selaku Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia menyatakan pentingnya terus mendorong literasi berupa awareness dan knowledge tentang wakaf.

“Para ahli manajemen perilaku dan perubahan sepakat bahwa syarat seorang melakukan start action kita membutuhkan literasi, maka ketika action dilakukan berulang ulang maka akan menjadi habits” ujar Imam.

Selain literasi secara pararel saat ini diperlukan ecosystem wakaf yang sehat dan kondusif, karena wakaf memiliki mandat jangka panjang dan berbeda dengan zakat dan sedekah. “Saat ini BWI juga mengembangkan kompetensi nazhir wakaf dengan SKKNI kenadziran untuk memberikan standar terukur dalam kompetensi kenadzhiran dengan begitu pengelolaan wakaf akan semakin baik dan kita siap menyongsong bonus demografi dengan tatakelola wakaf yang baik dan profesional” Ujar doktor lulusan IPB ini kembali memaparkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.